
Kegembiraan di Balik Musibah
18 Oktober 2009
Karena Gempa, Bertemu Artis dan Menteri
“UNTUANG ado gampo ko, Pak. Sehingga kami bisa basobok jo Apak,” begitu pernyataan polos yang dilontarkan Nitrawati (42) kepada Suryadharma Ali. Warga Pasie Jambak RT 5/RW 6 itu, begitu gembira bisa bertemu dengan menteri Koperasi dan UKM yang baru saja melepas jabatannya tersebut.
Nitrawati memang gembira alang tak kepalang. Karena sebelum bertemu ketua umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu Selasa (13/10) di tenda pengungsiannya, pada Jumat (9/10) lalu, dia pun bisa melihat langsung wajah-wajah artis sinetron yang digandrunginya. Bila sebelumnya dia hanya bisa memplototi wajah ganteng dan cantik para pesohor itu dari TV 21 inci merek Sanken miliknya, kini Nitrawati bisa menatapnya lekat-lekat.
“Artis yang datang itu Ali Sechan, Cici Tegal, Tuti Wibowo,” katanya lancar menyebut nama-nama selebritas itu. Dia pun dengan gamblang menyebut judul-judul sinetron yang mereka bintangi.
Keberuntungan di balik duka ini, memang menjadi pelipur lara bagi Nitrawati dan 250 KK di Pasie Jambak yang harus mengungsi di Posko PPP Peduli di depan Mushalla Ihdinas Shirotal Mustaqim, karena rumah mereka ‘babak belur’ dihajar gempa 7,9 SR.
“Siapa pun pasti tidak ingin dilanda musibah. Tapi musibah gempa yang telah terjadi ini, tetap punya hikmah. Salah satunya ya ketemu para pejabat, termasuk Pak Menteri. Kalau tak ada musibah, mana mau mereka ke sini,” kata Nitrawati.
Walau ada kesan menyindir dari kalimatnya, Nitrawati ternyata menyimpan obsesi. Dia ingin ketemu dengan Choky Sihotang, presenter acara Happy Song di Indosiar. Katanya, dia suka dengan gaya Choky ketika membawa acara itu. Namun di balik keinginannya itu, istri Edi Sopia (46) ini sangat sadar kalau bintang pujaannya tak akan mungkin datang ke Pasie Jambak.
“Kalau pun dia berkunjung ke Padang, pasti dia melihat daerah lain yang lebih parah atau lokasi yang telah ditentukan,” ujarnya.
Namun, tetap tebersit di hatinya, akan ada lagi tokoh-tokoh dan bintang nasional yang akan datang melihat daerahnya. Pasalnya, Pasie Jambak merupakan hunian penduduk yang terhitung rusak parah. Ratusan bangunan yang umumnya dihuni para nelayan ini, rusak berat dan sebagian banyak yang roboh.
Rumah Nitrawati sendiri, amblas dan roboh di sana-sini. Rumah yang ditempatinya bersama suami dan 2 anaknya (seorang lagi anaknya sudah bekeluarga-red), tidak lagi bisa didiami. Nitrawati cenderung memilih bertahan di tenda pengungsian, ketimbang menempati kembali rumah itu yang rentan runtuh bila ada gempa susulan.
Dengan bertahan di tenda pengungsian, minimal Nitrawati bisa ‘menikmati’ bantuan yang disalurkan oleh para dermawan, pejabat dan artis, bisa makan gratis di dapur umum, dan tentu berkumpul dengan tetangganya dalam tenda pleton yang cukup luas itu. (max)


















Segitunya ya Angku… Bisa juga orang2 disana merasa senang karena ada artis dan tokoh yang datang sebagai hikmah dari gempa.