
Penuturan Korban Selamat di Bimbel Gama
6 Oktober 2009TOLONG…tolong..tolong… Monika Suciati merintih. Kaki kirinya tertimpa reruntuhan bangunan di tangga lantai II gedung bimbel Gama. Tiba-tiba sesosok pria yang wajahnya tak jelas –karena gelap dan pengapnya ruangan–, mengangkat material yang menghimpit kaki siswi bimbel tersebut. Dia belum bisa bernafas lega.
Perlahan-lahan, Uci –begitu panggilan sayangnya– mengenali pria yang telah menolongnya itu. Divo begitu dia punya panggilan. Uci tak tahu nama lengkapnya, dan tak pula tahu di SMP mana dia bersekolah. Yang dia ingat, Divo adalah teman selokalnya sebagai peserta les di Gama. Lokal III C.24, yang semuanya adalah pelajar SMP.
Usai menolong Uci, Divo menolong teman mereka yang berada tak jauh dari Uci. Ada Ulfa (siswi SMP 31) dan Zul Adika (siswa SMP 8). Mereka tak bisa bergerak leluasa. Karena, mereka kini berada di sela-sela reruntuhan yang berubah menjadi lorong-lorong sempit. Suasana pun gelap gulita. Debu hasil runtuhan material, makin membuat mereka sesak untuk bernafas. Terlebih bagi Uci. Dia menderita asma. Berkali-kali dia terbatuk.
Suasana benar-benar mencekam. Sebagai penerangan, Uci menyalakan HP Nokia 5300 miliknya untuk menembus kegelapan. Perlahan-lahan mereka merangkak menyusuri lorong sempit itu. Tak seberapa jauh, terdengar pula rintihan minta tolong. Dia mengenali Uci, tapi Uci tak bisa mengenali siapa gerangan perempuan tersebut.
“Uci tak bisa menolongnya. Uci takut pingsan, karena asma Uci mendadak kambuh akibat debu yang begitu pekat. Yang bisa Uci lakukan, cuma bisa minta maaf karena tak bisa menolongnya,” cerita siswi SMPN 8 kelas VIII H itu lirih.
Setahu Uci, Divo sempat juga menolong kawannya itu. Bahkan guru les Bahasa Indonesia-nya Suci Hidayati yang juga selamat dari himpitan reruntuhan, terlihat menolong. Sementara Uci terus merangkak dan kadang jalan jongkok untuk menembus ujung lorong. Akhirnya lorong itu berujung. Secercah cahaya yang tak begitu terang terlihat. Ternyata, itu pintu keluar lantai III yang terasnya difungsikan sebagai tempat jemuran kain.
Mereka berhasil keluar dari reruntuhan gedung Gama yang telah ambruk. Berjalan di atas puing-puingnya. Saat itu, sekilas Uci melihat beberapa anggota bimbel yang turut selamat. Di antaranya 4 orang murid SD, Ulfa (siswi SMP 31), Zul Adika (siswa SMP 8), Ima (siswi SMP 21), Yodi (siswa SMP Semen Padang), Miss Lily (guru les Bahasa Inggris) dan Suci Hidayati.
“Selama 10 menit kami harus menembus lorong itu. Dan alhamdulillah akhirnya selamat,” ucapnya berkaca-kaca mengenang detik-detik setelah gempa 7,9 SR yang menggoncang pada 30 September lalu, pukul 17.16 WIB.
Di tengah kecamuk kepanikan warga yang tumpah ruah di ruas Jalan Proklamasi tempat bimbel Gama itu pernah berdiri, Uci berpisah dengan Divo yang telah menyelamatkan nyawanya. Uci, bertiga dengan Ulfa dan Zul Adika, lantas berjalan kaki menuju arah timur kota. Mereka tak bermaksud menjauh dari pusat kota yang begitu dekat dari garis pantai ataupun mengungsi dari ancaman tsunami seperti yang dilakukan warga yang panik. Ketiganya hanya berencana untuk pulang ke rumah mereka yang memang berada di timur kota. Uci tinggal di Jalan Kampuang Tarandam II RT 02/II No 57, Ulfa di Filano dan Zul Adika ke Andaleh.
Baru menjelang maghrib ketiganya sampai di rumah masing-masing. Suasana masih mencekam. Di rumah, anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Jasman Cipto (46) dan Asnita (38) ini bertemu dengan abangnya Eko Fadli (16) dan uncunya (paman paling kecil-red). Sementara mamanya, ketika gempa berada di Pasar Raya, belum terlihat batang hidungnya. Baru beberapa jam kemudian mamanya sampai di rumah. Pertemuan itu begitu haru. Sementara papanya, tengah bertugas di Batam.
Peristiwa gempa 30’s itu menjadi kenangan buruk yang selalu terpatri di ingatan Uci. Dia mengaku trauma. Setiap ada gempa susulan, jantungnya berdegup kencang. Tapi, dia tetap bersyukur bisa selamat dari tragedi yang telah meluluhlantakkan Kota Padang itu. Dan dia mengaku berterima kasih atas pertolongan Divo kepadanya, yang sampai sekarang belum lagi bertemu dengannya.
“Kalau ada informasi tentang Divo, tolong kontak Uci ke nomor 0751-890157. Termasuk kalau ada yang menemukan ransel Uci yang berisi sejumlah buku perpustakaan sekolah, uang Rp 80 ribu dan headset Nokia,” katanya, seraya melayangkan pandangan ke tumpukan tas peserta bimbel yang dievakuasi di Kantor POSMETRO. Sampai kini, dia belum menemukan tas itu. Sama halnya dia juga belum mendapat kabar tentang Divo. Divo sang pahlawan Gama. (max)


















luar biasa ….
benar di manakah saat ini Divo malaikat pemyelamat itu?
silahkan ke blog saya richocean Richocean tentang
Pariaman Gempa Lagi Ba’da Isya Malam Ini
atau blog saya lainnya
Richmountain
salam …
SEMOGA SEMUA ORANG BISA NENGIKUTI JEJAK DIVO YANG TAK HANYA MENTINGIN KESELAMATAN PRIBADINYA……….
AYO MAZYARAKAT MINAG………
JAGA UKHUWAH.
PERBANYAKLAH AMAL…..
AMIN………..
tragis…disinilah lokasi korban gempa yang paling memilukan, puluhan anak-anak menjadi korban…
berapa orang da korban yang selamat dari reruntuhan Bimbel GAMA? semoga ada info lebih lanjut ttg si Divo ini, mirip kisah Koki Ambacang, yang sayangnya ditemukan meninggal, padahal kabarnya ybs kembali masuk ke dalam hotel untuk menolong teman2nya…
tak semua orang mampu seperti divo. sebuah kisah yang patut dicontoh generasi sekarang.
turut berduka cita sedalam dalamnya untuk masyarakat minang.
semoga divo selalu diberkahi allah