JUMAT (5/6), jarum jam masih menunjukkan pukul 08.15 WIB. Sinar mentari pagi sudah mulai menggigit. Semilir angin di Pantai Pasie Nan Tigo tidak cukup membantu menghilangkan rasa gerah.
Andres (19) membuka bajunya. Kedua tangannya diacungkan ke atas, lalu pindah ke gerakan lain untuk melakukan peregangan otot-ototnya. Cuma sebentar dia stretching. Lalu diikatkannya seutas tali ke pergelangan kaki kanannya yang terhubung ke papan selancar Stusmith miliknya. Dia bersiap-siap menggumuli ombak di mulut Muaro Penjalinan.
Pagi itu, mahasiswa Hubungan Internasional FISIP Unand ini memang sudah janjian dengan dua orang temannya untuk “bernari” di atas papan selancar mengikuti alur ombak yang semakin membesar ketika menghempas ke tepian.
“Untuk mengetahui ketinggian ombak, saya cukup melihat di internet. Tinggal googling, pasti dapat situs yang menginformasikan tentang cuaca dan tinggi gelombang di Samudera Hindia, termasuk perairan Kota Padang ini,” kata Andres.
Papan surfing lalu ditentengnya ke lautan. Papan itu dibelinya seharga Rp 500 ribu. Katanya, bekas pakai bule yang pernah patah dua dan lalu dilego lagi setelah direparasi. Umumnya, anak-anak Padang yang doyan berselancar, menggunakan papan bekas ini. Karena kalau beli yang baru, takkan sanggup isi kantong mereka menggapainya. Harganya jutaan rupiah. Apalagi umumnya mereka cuma mahasiswa yang masih mengandalkan biaya hidup dari orang tuanya masing-masing.
Meski hanya papan bekas, bentuk fisik papan itu tidak banyak berubah dan tetap laik pakai berselancar. Kalau mereka beruntung dalam memilih papan berujung lancip itu, bisa jadi papan merek-merek ngetop mereka dapatkan. Salah satunya merek LSD yang digunakan rekan Andres.
“Tak perlu papan mahal ataupun bermerek, yang penting bisa surfing. Umumnya kami-kami ini dalam tahap belajar, belum surfer profesional yang selalu berburu ombak besar di berbagai tempat,” kata Andres yang mulai belajar berselancar di Pantai Parkit Aia Tawa.
Dia lalu berjalan ke arah laut. Ketika kedalaman sudah mencapai pinggang, tubuhnya direbahkan di atas papan, lalu melakukan gerakan paddle (mendayung) mengejar cikal ombak yang diyakini bakal besar begitu sampai di daratan. Ketika tubuhnya berada di atas laut berkedalaman 2 meter, cikal ombak itu muncul. Dia kembali mengayuhkan tangannya dari atas papan mengikuti arah ombak yang menuju daratan. Sekejap, langsung saja dia berdiri di atas papannya. Lalu meliuk mengikuti alur ombak. Semakin besar ombak, semakin luar biasa rasanya.
“Ombak di Muaro Penjalinan ini termasuk lumayan. Bisa berketinggian 1-2,5 meter di luar musim pasang. Selain di sini, di Pantai Aie Manih juga banyak yang surfing,” katanya.
Sebelumnya, kata Andres, di muara Banda Bakali Pantai Puruih juga banyak yang berselancar. Tapi sejak dibangun taman kota yang menjorok ke laut dan membelokkan mulut muaranya, ombak di sana tidak lagi cocok untuk surfing.
“Ombak Puruih tidak seperti dulu lagi. Tak asyik lagi. Peselancar banyak yang lari ke Muaro Penjalinan,” tukasnya. (max)





















imoe berkata,
6 Juni 2009 pada 9:15 pm
ndak takah dalam lagu TIAR RAMON ndak da a…
morishige berkata,
7 Juni 2009 pada 5:16 pm
sayang sekali, da..
padahal ombak puruih itu kan dulu terkenal..
bayuiK berkata,
8 Oktober 2009 pada 7:28 pm
Ombak puRus tinggaL kenangan..
Local pDg btmbah bingung …
tempat beRmain smkiN mnjauh dan teRbatas ..
teRpaksa dee Dropping2 main ny !!
hahaaay ….
oNe Love Brothers !!