h1

Kisah Penjahit Zula Zuli

6 Mei 2008

Penjahit zula-zuli 1Punya Pelanggan Turun-temurun

DI usianya yang tak lagi muda, Zulkarnaini masih saja berusaha menafkahi keluarganya. Ruang tamu yang tak begitu luas, cuma 4 x 2,5 m, disulap pria berusia 68 tahun itu menjadi tempat menjahit. Tak ada peralatan modern, seperti mesin obras, atau perangkat pendukung lainnya. Di situ hanya ada mesin jahit tua yang masih dioperasikannya dan sejumlah mesin jahit lama yang tak terpakai karena rusak.

Di rumahnya yang sederhana dan tertera stiker Rumah Tangga Miskin (RTM), pria yang didapuk sebagai ketua RT 2/XI Kelurahan Alai Parak Kopi itu menghabiskan masa tuanya sebagai penjahit. Di rumah itu, sejak tahun 1971 Zulkarnaini menerima order jahitan pakaian pria-wanita. Terserah mau model apa, Pak RT ini tetap bisa memenuhi selera pelanggannya.

“Untuk wanita, biasanya banyak yang minta dijahitkan baju kurung “guntiang cino” dengan kerah tegak. Sedangkan pria, tidak terlalu banyak gaya. Cukup seperti kemeja dan celana yang lazim dipakai orang banyak,” terangnya.

Penjahit zula-zuliMeski sudah berpuluh tahun melakoni profesi sebagai penjahit, Zulkarnaini mengaku tak pernah kehilangan pelanggan lamanya. “Mereka umumnya pelanggan turun-temurun. Dulu ibu-bapaknya yang menjahitkan pakaian ke sini. Kini giliran anak-anak mereka kemari,” ceritanya.

Sebagai tukang jahit, Pak Zul mengaku, pendapatan yang diperolehnya tak bisa dirata-ratakan. Kadang banyak, kadang tidak ada sama sekali dalam seminggu. Karena itu dia tidak bisa menyebutkan berapa angka pasti yang dia dapat dari usahanya itu. “Yang pasti cukup untuk makan, pembeli beras tiga tekong sehari,” ucap bapak 7 anak ini basa-basi.

Suami Rosmanailis (52) ini merasa bersyukur masih bisa menggunakan keterampilan menjahitnya untuk menghidupi keluarga. Ilmu yang didapat ketika bujang saat merantau di Bandung, disebutkannya telah mengantarkan 7 anaknya bersekolah hingga SMA. “Itu saja sudah syukur. Karena saya sendiri tidak pernah tamat sekolah,” akunya.

Karena semua anak-anaknya sudah berkeluarga dan bukan lagi tanggung jawab dirinya untuk menafkahi, Zulkarnaini mengaku tidak lagi memporsir tenaga untuk menyelesaikan order jahitan.

“Kepada pelanggan, saya cuma menjanjikan agar pakaian mereka dijemput seminggu lagi. Sehingga saya tidak terburu-buru merampungkan pesanan mereka itu,” sebutnya. (max)

6 komentar

  1. hebat pak zul. semoga sehat, ceria banyak pelanggannya :)

    max -> amin…. :)


  2. subhanallah……ayah yang LUAR BIASA !!!, mengingatkan aku pada ayahku yg sudah 70 tahun…..oh. AYAH…

    max -> semoga beliau tetap sehat… :)


  3. Wuah..
    Kalo lihat kayak gini pengen deh rasanya berkunjung kapan-kapan kesana walaupun ga ada maksud untuk jahit..

    Cuma kadang ada orang yang ga mau nerima dikasihani seperti itu, tapi ada juga yang senang dapat pengunjung walaupun ga ngapa-ngapain juga.. hehehe

    max -> emangnya Nada mo kasih bantuan gitu? Kalau iya, buat saya aja….. :D


  4. Ohhh baju kurung itu namanya guntiang cino ? :P

    max -> bukannn.. itu hanya modelnya. kalau baju kurung ada yang namanya baju kurung baseba, dan baju kurungan sekian tahun penjara… hihihi :P


  5. Max, kalau Pak RTnya aja RTM, gimana warganya? Apa RTM semua? atau tak ada orang yang lebih mampu lagi untuk menjadi Pak RT? Bayangkan aja, disaat dia harus menafkahi keluarganya, eh.. warganya malah ngurus KTP. Tabedo karajo tu…

    max -> Itulah, Kry… Kecek apak tu di RT-nyo ado 26 warga yang RTM. Sementaro nan kayo2 maleh jadi Pak RT dek mambuek panek mereka sajo. Makonyo ambo salut jo gaek suruang ko :D


  6. Baju kurungan penjara…wahhhh ndak ada yang mau bikin atuh da :P

    max -> hehehe, manatahu Nai minat bikin, buat nambah koleksi baju kurung lainnya :D



Tinggalkan sebuah Komentar