
Foto Mesum…, Narsis Penuh Kegilaan
8 Februari 2008
BAHWA semua manusia itu adalah makhluk yang narsis, tidak akan ada yang membantah. Siapa pun anda, apa pun jabatan anda, etnis anda, agama anda, status pendidikan anda, bentuk fisik anda, pastilah narsis. Tak percaya? Pastilah takkan pernah ada cermin diciptakan manusia, kecuali untuk memfasilitasi kenarsisan itu. Cuma kadar kenarsisan orang per orang, pastilah berbeda. Jadi jangan takut dibilang narsis!
Narsis boleh, tapi jangan kebangetan. Silahkan matut-matut diri di cermin, bergaya habis-habisan ketika dipotret, atau senyam-senyum di kamera, tapi jangan kebablasan.
Fasilitas termaju untuk bernarsis ini adalah kamera. Kamera diciptakan untuk membikin kenangan kenarsisan. Baik narsis sendirian, maupun narsis penuh kebersamaan. Tapi apa jadinya kalau kenangan bernarsis itu tampil dalam bentuk lain? Tampil di luar batas kewajaran, merobek-robek nilai dan tatanan kehidupan, walau di hati tak pernah diniatkan untuk begituan.
Foto berduaan dengan pasangan, wajar. Tapi menjadi tidak wajar bila tanpa pakaian dengan aksi yang bikin orang melihat menjadi blingsatan. Orang melihat tak mungkin disalahkan, dan pelaku tidak pula butuh pembenaran untuk menutupi kesalahan. Apapun alasannya, meski diniatkan untuk kenangan pribadi, tetap saja yang salah itu perbuatan.
Mungkin hal itu yang tak pernah diperkirakan sepasang anak manusia yang bersekolah di sebuah SMA di Bukiktinggi. Kenangan percintaan mereka yang diambil dari HP berkamera, akhirnya merubah hidup mereka. Gambar seronok yang tak pantas diabadikan –walau untuk kenangan mereka berdua semata–, telah mengantarkan kegelapan bagi hidup mereka. Corengan hitam kini lekat di kening mereka, orang tua mereka, keluarga mereka, sekolah mereka, institusi yang mengurusi pendidikan mereka, hanya gara-gara narsis yang tidak pada tempatnya.
Mereka bukanlah yang pertama dan bukanlah yang terakhir untuk membukukan perbuatan serupa. Sudah ratusan kasus menghebohkan yang muncul ke permukaan yang dilakukan berbagai kalangan. Mulai dari anak sekolahan, sampai ke anggota dewan. Tapi tetap saja itu tak dijadikan pelajaran. Kasus-kasus baru tetap bermunculan. Dan kita, akan semakin terbiasa dengan sebuah kegilaan. Gila akan sebuah kenangan, walau itu di luar batas kewajaran. (max)


















ini mah bukan narsis Da…gelo :)
hihi gelo gilo bukan?
ado2 se anak zaman kini ko hah, ampyuuun…:P
seMAKIN tidak wajar lagi, bila foto tanpa pakaian tersebut dipamerkan ke orang lagi. gila memang! tak ‘kan ada yang mencari situs (atau gambar) porno, jika dan hanya jika tidak ada yang memamerkan aksi mesumnya di media. aghhh….. bukannya terbalik?
bang maryulis, sudah tidak main di blogger lagi ya..?? semoga wordpressnya langgeng. kapan chatting lagi, bang?
“Mereka bukanlah yang pertama dan bukanlah yang terakhir…”
Kayak lirik lagu aja… hehehe… tapi bagusnya diganti, Angku…
“Mereka bukanlah yang pertama tapi mudah-mudahan yang terakhir”
bingung
Apa kata dunia…???
Itu Semua Cobaan…