
“Diskotik Berjalan” itu Diburu
5 Februari 2008
PERNAH ke Kota Padang? Pasti tahu dengan maksud kata-kata “diskotik berjalan”. Istilah itu ditujukan kepada angkutan kota (Angkot) dan buskota di sini. Bayangkan, suasananya persis dengan diskotik, terlebih di saat malam dengan kedap-kedip lampu warna-warni yang mengiiringi hingar-bingar musik “ajeb-ajeb” yang menyeruak dari sounds system oke punya. Speaker-nya pun segede gaban yang berdebam-berdebum memekakkan telinga
Kemeriahan itu belum cukup. Ada pula Angkot dan buskota yang punya mini monitor yang memutar lagu dari VCD bajakan. Yang diputar, tentu saja lagu triping yang ditingkahi goyangan maut dancer seronok berbaju minim. Asli, bikin mata puas bergoyang mengikuti lekukan tubuh si penari yang kadang tak nyambung dengan musik pengiringnya. Tapi asli pula bikin telinga pekak nyut-nyutan lantaran volume VCD player-nya yang naudzubillah…
Kesemarakannya pun tidak cukup segitu. Lihatlah tampilan body Angkot dan buskota itu. Penuh warna dan beragam merek serta gambar-gambar yang oke punya menempel di dinding angkutan umum ini. Maka tak heran usaha airbrush dan kaca film laris manis di sini. Kendati warna dasar dinding masing-masing Angkot dibedakan berdasarkan jurusan, seperti oranye, putih, biru langit, biru tua, hijau, merah dan sebagainya, bukan pantangan untuk mempermak body mobil mereka. Bemper depannya pun, kadang ditrondoli seceper-cepernya yang kadang mirip mulut ikan hiu pula. Walah!
Maka jangan heran, keunikan Angkot dan buskota ini acapkali mengisi berita-berita ringan di televisi. Kalau di koran, mungkin sudah bosan, karena sudah menjadi pengisi berita langganan. Dan jangan heran pula bila banyak orang luar daerah sangat kepincut mencoba naik angkutan umum yang kata mereka murah meriah dan full music itu. Jadilah kini mereka menjadi brand image Kota Padang sebenarnya.
Walau brand image di mata orang luar, tapi tunggu dulu untuk internal Kota Padang. Mereka dipuji dan dicaci. Dipuji dan diincar untuk ditumpangi ABG pulang sekolahan, dan dicaci oleh gaek-gaek yang sesak karena terganggu pendengaran. Itu pun belum cukup, mereka pun jadi buruan aparat karena sering melakukan pelanggaran. Seperti yang terjadi Selasa (5/2) ini. Sebanyak 549 Angkot diburu dan ditilang di tempat oleh petugas Dishub. Alasannya? Yang pasti melanggar UU No 14 Tahun 1992 dan seabreg aturan yang telah ditentukan.
Kapokkah supir-supir itu? Belum tentu. Karena bagi mereka, kemeriahan dan kesemarakkan Angkot yang dikemudikannya menentukan jumlah penumpang yang akan menumpanginya. Dan demi itu, mereka rela serela-relanya untuk berbuat apa saja, termasuk melanggar ketentuan. (max)


















Hebat! Mungkin usaha angkot di sana menguntungkan sampai full modif begitu. Saya pernah mendengar yang serupa dari teman di Jambi. Katanya seperempat bagian belakang angkot disulap menjadi speaker.
Benarr..benar sekalee..aku sering kesel kalo naik angkot dipadang..tapi jangan salah,,taksi juga ga mau kalah,,pas wkt mau pulkam mendapatkan taksi yang bagasi belakang ga bisa dimasukin barang kita coz penuh dengan sounds system tadi
pak Aprizal ; sopir angkot yang dulu saya ajak kencan juga bilang “kalo indak ajeb-ajeb, indak laku angkot ambo ko, diak” weleh..padahal saya beberapa kali minta dicarikan lagu yang ndak ajeb ajeb..PANIANG :)
Wakakakakak…. Pekanbaru sama aja kok, Angku. Angku se nan indak pernah naik angkot di Pekanbaru. Dulu sekolah PP jalan kaki kan? hehehe… tapi mau gimana lagi… Disatu sisi disenangi ABG, dilain sisi sebenarnya dengan kondisi seperti itu akan menjadikan rawan tindak kejahatan.
ambo suko dg kreatifitas lukisan2 itu, tp tidak dg suara musik yg berisik, krn bisa membahayakan penumpang. sopir jadi budek hehe..halah sajak dulu di bis kotapun jadi diskotik max, jaman uni kuliah alah ado tu, kecuali gbr2 yg keren tuh.
wahhh tulisan ini mengobati saya yang lagi kangen kampung halaman
thanks banyak uda