
Andri…, Pilihan Selalu Punya Konsekuensi
31 Januari 2008
MEMBACA akhir hidup Andri (23), bagai menyaksikan campur aduk sebuah perasaan. Ada ketragisan, kelucuan, kepuasaan, penyesalan, kengerian, dan setumpuk rasa yang akan bersemayam di relung hati pembaca. Di akhir usianya yang terbilang muda, akibat pilihan hidup yang harus dilakoninya, dia harus meregang nyawa di tangan keberingasan massa. Tidak ada cerita kemanusiaan di sini, yang ada hanyalah penegasan bahwa pilihan hidup selalu membawa konsekuensi.
Pun begitu dengan Andri. Pria ber-KTP Padangpariaman itu, mungkin takkan mengira, Rabu 30 Januari 2008 menjadi hari naasnya dalam menjalankan aksinya sebagai penjambret. Menjambret, apakah sebuah pilihan? Hanya Andri yang tahu. Yang jelas tetap ada konsekuensi di baliknya. Selamat, masui bui atau mati!
Tidak tepat menyebut keteledoran menyangkut perbuatan yang dilakukan Andri ini. Apes, begitu mungkin cocoknya. Di tengah ketergesaan, kepanikan, ketakutan, dan sebuncah kekhawatiran, dia mengebut sejadi-jadinya begitu tas korban yang disambarnya telah berpindah tangan ke dirinya. Suzuki Satria bernopol BA 4939 W yang digebernya, lalu menabrak wanita tua bernama Rosma. Korban semaput, lalu tewas di tengah perjalanan menuju tempat perawatan. Sementara dia sendiri, terjatuh, lalu harus berhadapan dengan warga yang melihat hasil perbuatannya yang tidak hati-hati dalam berkendara. Amarah warga menggunung, setelah korban jambret yang menyusulnya, memberitahu bahwa lelaki itu baru saja menjambretnya.
Kabur. Hendak ke mana dia kabur, dari kejaran massa yang tengah meradang. Pilihannya untuk lari, menyisakan tawa di balik amarah. Dimasukinya rumah korban Rosma yang baru ditabraknya, lalu bersembunyi di dalam lemari es yang besarnya entah berapa, sehingga bisa memuat badan tegapnya. Tentu saja persembunyian yang tak aman dan nyaman. Begitu ditemukan, remuk redamlah dia. Semaput, dengan nafas yang tinggal satu dua. Dan akhirnya berangkat keharibaanNya saat dirawat sebentar di unit gawat darurat sebuah rumah sakit. Menyusul korban yang telah ditabraknya, meninggalkan puing-puing motornya yang telah dibakar massa.
Begitulah. Sebuah cerita bahwa pengadilan massa jauh lebih ganas dari pengadilan sebenarnya. Jauh lebih berkuku dan cenderung tak manusiawi dari pengadilan yang menjadi institusi negara. Kadang, vonis yang dijatuhkan jauh lebih efektif daripada vonis pengadil-pengadil kita yang diatur hukum acara. Tapi, berhakkah massa menjadi hakim yang memutuskan mati hidupnya sang pesakitan? Entahlah… Yang pasti hukum alam telah membuktikan, bahwa ada reaksi atas aksi. Maka hati-hatilah menjatuhkan pilihan, karena selalu ada konsekuensi yang menanti. (max)


















Waduh …
maut,…kadang itulah refleksi moral bangsa kita
Asl..da…, ambo jadi ingek kajadian dulu yg sarupo iko (indak talok ambo malieknyo doh,iyo subana sadis caro masyarakat maukumnyo), tidak ada yg bisa dipersalahkan, satu yg harus diminta tanggungjawabnya adalah PEMIMPIN. oiya salam kenal da…ambo ingin bagabung di go-minang baa caronyo ?
tapi da, kok nggak bisa malin bikin salam perkenalan di web go.minang tu ? apa masalahnyo tu da? oiya malin link blog uda yo ?