PEMILIHAN Presiden (Pilpres) masih lama, tapi gaungnya sudah mulai terdengar dari kini. Jagoannya pun sudah dielus-elus berharap jalannya jadi mulus. Ada yang nyebut Jusuf Kalla, ada yang tetap menjagokan SBY, ada yang ngelus Sutiyoso dan ada yang kembali dorong-dorong Megawati. Terakhir muncul nama Kapolri, Sutanto.
Kalau sudah begini, memory saya langsung berputar pada tulisan-tulisan yang pernah saya baca dahulu kala. Teringat, dulu ada pembahasan Jongko Joyoboyo oleh “dukun politik” Permadi SH di majalah Tempo tahun 1998 dan omongan Gus Dur di sebuah tabloid yang saya lupa namanya –entah tabloid Adil atau Tekad– pada tahun yang sama –kalau tidak salah.
Presiden RI dikaitkan-kaitkan dengan mitos Notonegoro yang ditafsirkan sebagai nama akhir pemimpin Indonesia. NO (Soekarno), To (Soeharto), Ne; bukan orang Jawa (Habibie), Goro; ribut-ribut (terbukti dengan terpilihnya Abdurrahman Wahid yang kemudian digantikan Megawati). Terus balik lagi ke No (Susilo Bambang Yudhoyono).
Nah di sini, asyiknya. Setelah No, tentu To lagi. Siapa dia gerangan? Karena itu saya pengen coba-coba jadi “dukun politik” pula. Meramal siapa gerangan yang bakal jadi presiden.
Kalo dilihat dari daftar nama yang sudah diusung beberapa Parpol dan berbagai kalangan, saya bisa ramalkan yang bakal jadi presiden itu adalah…, bukan saya!!! Tapi seseorang yang punya nama yang akhirannya TO. Selamat bagi TO yang kini jadi TO (Target Operasi). Siapa dia? Silahkan lihat foto. Kalaupun nanti salah, wajar. Yang namanya dukun, lebih banyak salah daripada betulnya.(***)





















meiy berkata,
15 September 2006 pada 5:23 am
hehe…ga minat jadi president max…wekksx :D
unai berkata,
16 September 2006 pada 3:08 am
hmmm mungkin Yuno AmbarwoTO…doakan saja da, hahah
lucy berkata,
18 September 2006 pada 11:00 am
kalau orang jawa bilang, bisa marwo-to, bisa supar-to, bisa subejo-to, bisa supangat-to, bisa farellio-to, bisa papanya farel-to, bisa ayahnya disya-to…dan to to lainnya….
mutiara nauli pohan berkata,
19 September 2006 pada 5:53 am
siapa tuh bang ??
kana berkata,
21 September 2006 pada 6:52 am
hehehe… kalo kana-to gimana? :p tapi gak mo ah jadi presiden! pusiiiiing… tar di demo terussss…. apa lagi jaman sekarang… helah….
gaussac berkata,
21 September 2006 pada 12:23 pm
oohhh…masih berlanjut ya budaya notonogoro. dari awalan “no” sampe akhiran “ro”, terus balik lagi ke “no”.
ngga selse2 ya. hhmmm indo..indo..
vIX berkata,
9 Januari 2009 pada 3:14 pm
Ah moso` sich……????!!! SANGARTO kali…..!!
AjinomoTO berkata,
9 Januari 2009 pada 3:32 pm
Bukan gw lho bukan!
taufikasmara berkata,
13 Maret 2009 pada 10:44 pm
Wahhh kapan giliran Jend. Naga Bonar? Wakakakaka
a.s daniel septianto berkata,
23 Maret 2009 pada 1:43 pm
Nah ini nich peluang gua, siapa tau ada jurig tumpak kuda, kini giliran to. kebetulan nama gua ada to nya. tapi siapa yang mo ngangkat gua…??? jadi caleg aja kagak… darimanba jalan nya… dan gimana caranya…..apa laku gak akhiran nama gua to..ha.. ha… ha…..
sukma wijaya berkata,
6 April 2009 pada 9:19 pm
saya yakin yang barakhiran to” ga
itu bisa juga kedua jenderal purnawirawan
kalo ga wiranto,prabowo subianto….
itu mungkin lhoo…………………
sir koto berkata,
14 April 2009 pada 7:21 pm
paling aku nehhhh sir koTO hik hik hik
gontor galigota berkata,
15 April 2009 pada 2:16 pm
Hhhhmmm…
saat ini banyak orang yang memaksakan diri atau memposisikan diri bahwa seolah-olah dirinya lah bagian dari ramalan tersebut.
Celakanya.. Sudah merasa Cocok dan sesuai dengan apa yang digambarkan oleh para peramal.. Padahal belum tentu benar dan malah jauh sekali dari target!
Mengapa demikian?
Karena ramalan yang ada saat ini hanya menggunakan bantuan/patokan dari huruf dan suku saja (mis. inisial atau akhiran go, dan dia berasal dari Jawa dan keturunan raja).
Ada baiknya bila para peramal untuk mencoba mengaitkan ramalannya dengan beberapa aspek, misalnya titisan dan masa lalu (past life) serta apakah sang Presiden saat ini memang terlahir sebagai orang jawa? Dimana dia tinggal? apakah saat ini dia sudah tampil dan dikenal publik? dsb..
Demikian ulasan kami, Moga-moga bermanfaat!
Wassalam,
Gontor Galigota
dhira berkata,
23 April 2009 pada 2:41 pm
to yg terakhir, Parabowo Subianto kali? Hahahaha
Abinya Azmi berkata,
25 April 2009 pada 11:26 pm
mitos NOTONOGORO yang saya tahu untuk presiden Indonesia semuanya sudah habis, karena NOTONOGORO merupakan nama2 akhir dari para pemimpin bangsa, atl : No=SoekarNO, To=SoehaTO, No=TresNO (dlm bhs Arab=Habib/Habibi), Go=Gus Dur+MeGOwati, dan yang terakhir adalah RO, mestinya disandang oleh Amien ROis, tapi sayang ia orang yang anti mitos dan ramalan, karenanaya mengakibatkan bangsa indonesia dilanda goRO-goRO. SBY cuma penderita…
wallahu a’lam…
dodol berkata,
6 Mei 2009 pada 5:17 pm
no Yudoyono nya kan belon kelar,..masih sekali lagi,..jadi tunggu nanti tahun 2014 baru deh ke TO ,……yg mungkin subianto naik 2014..
yude berkata,
8 September 2009 pada 3:51 pm
yang benertu
( alm Mbah surip)
enak to
mantep to
ayo kemana
tak gendong to….kemana—mana
andy indrama berkata,
17 September 2009 pada 5:02 pm
Analisa umum yang ditulis mengenai teori Joyoboyo menggambarkan urut-urutan pemimpin Indonesia menuju kemakmuran adalah ”notonogoro” — urut-urutan suku kata terakhir nama mereka. ”no” untuk Soekarno, ”to” untuk Soeharto, dan ”no” kedua buat Susilo Bambang Yudhoyono. Adapun B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri dianggap sebagai tokoh peralihan.
Menurut pandangan saya, urut-urutan pemimpin Indonesia adalah ”notobuwono”
Karenanya semua nama presiden Indonesia sampai saat ini dapat terwakili dalam tiap suku kata maupun huruf dari kata NOTOBUWONO.
Hal ini bisa ditelaah dari nama-nama presiden Indonesia terwakili dalam kata NOTOBUWONO,
SOEKAR(NO)
SOEHAR(TO)
(B)AHARUDDIN JUSUF HABIBIE
ABD(U)RRAHMAN WAHID
MEGA(W)ATI SOEKARN(O)PUTRI
SUSILO BAMBANG YUDHOYO(NO)
Pemimpin yang diwakili satu huruf saja menggambarkan masa kepemimpinan yang singkat dibawah dua tahun.
B.J. Habibie hanya 17 bulan (21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999)
Gus Dur hanya 21 bulan (20 Oktober 1999- 23 Juli 2001)
Bisa saja Indonesai bukan hanya gambaran sebuah kerajaan negara(notonogoro), tapi gambaran kerajaan dunia/jagat(notobuwono)
Mangulungun berkata,
13 April 2010 pada 1:34 am
no-to-ne-go-ro itu bukan dikaitkan dengan presiden, melainkan adalah suatu kitab ketatanegaraan, jadi jangan salah penafsiran..ok
Ahmad Said Rusdi Hasibuan berkata,
26 Mei 2010 pada 6:27 am
HUTOMO MANDALA PUTRA SOEHARTA. GITU AJA KOK REPOT-REPOT…
LImantoewe berkata,
5 Juni 2010 pada 9:42 pm
mungkin saja gw yg TO
nama gw berakhiran TO
dn gw bercita2 jd presiden
itu mimpi gw
gw yakin itu
To itu mungkin jd gw punya
semoga dee
manusia berkata,
22 Agustus 2010 pada 7:41 pm
asal jangan prabowo subianTO
manusia berkata,
22 Agustus 2010 pada 7:43 pm
@MANGULUNGUN.. itu kitab ketatanegaraan yang ramalin presiden indo KATANYA
Cöpii berkata,
21 Oktober 2010 pada 6:09 pm
wek…nyambung g? skrg pk SBY naik lg. TO gd di pk SBY.
rifan prastyo anggoro berkata,
27 November 2010 pada 3:27 pm
tunggu saya di tahun 2020
Abdul berkata,
3 April 2011 pada 10:10 pm
dukun mana ada yg bener, benerpun kbetulan… tapi yg ini bener2 kebetulan bener “GORO” setelah NOTO NE lainnya GORO,
roy berkata,
12 Mei 2011 pada 6:08 pm
sepertinya saya to ha ha ha
Zhay berkata,
10 Agustus 2011 pada 11:14 am
wahhh main tebak tebakin nihhh
TANGGIO berkata,
28 Januari 2012 pada 4:48 pm
NATHANEGARA, NA=SUKARNA=SUKA MBONGKAR NEGARA,T=SUHARTA=SUKA AKAN HARTA,H=HABIBIE=HABISI NEGARA(TIMOR LESTE),A=ABDUL RAHMAN WAHID=AMBURADUL NEGARA,EGA=MEGAWATI=TEGA BIKIN RAKYAT SENGSARA KHUSUSNYA KARYAWAN OUTSOURCING,RA=BIKIN ISA PERKARA,SAMBUNG MENYAMBUNG,KEJADIAN ALAM DSB,BANYAK MUASALH GA BISA DISELESAIKAN
Jaka berkata,
8 Maret 2012 pada 12:36 pm
NO-TO-NO-GO-RO
No=Sukarno
To=Suharto
H=Habibie
A=Abdurahman
M=Mega
No=Yudoyono
Go=?
Ro=? ataukah Goro=Kacau
Tiga presiden yg ga penuh memimpin negara ga diitung mereka cuma korban HAM, stlh NO skrg apakah ada presiden yg ada GO lalu RO ataukah
GORO=kekacauan yg akan trjadi d negri ini, moga aja satria piningit cpt keluar jangan cuma ngumpet sambil ngintip ìndo yg makin semrawut, ga usah d pikir serius, gua cuma iseng nulis hehehe