Kisah Pemulung di TPA Aia Dingin
Duit Sejuta Tercecer di Tumpukan Sampah
REZEKI tak berpintu. Ungkapan serupa itu dialami betul oleh para pemulung yang mengais-ngais gunungan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Aie Dingin. Di balik sampah yang tak berharga, mereka mendapat rezeki tak terduga.
“Ado nan dapek pitih sajuta, taserak di onggok an sarok. Ambo pernah juo dapek duo ratuih limopuluah ribu. (Ada yang pernah mendapatkan uang sejuta, tercecer di antara gunungan sampah. Saya sendiri pernah dapat Rp 250 ribu),” cerita Ii (26).
Ceceran uang itu, sebut ibu muda ini, biasanya angpao-angpao pesta pernikahan yang tak sengaja dibuang si empu pesta bersama sisa-sisa amplop lainnya. Uang itu masih tersimpan utuh di dalam amplop yang belum dibuka, dan dibuang bersama kertas-kertas amplop yang telah lecek.
“Kalo ada yang tewas gara-gara SMS, berarti tugas malaikat sudah digantikan oleh SMS maut. Atau memang malaikatnya sendiri yang pake HP untuk mencabut nyawa orang-orang. Biar simpel dan tak bikin ribet. Tinggal telepon…, yang emang sudah jadwalnya ketemu ajal, langsung lewat.”
KALIMAT bernada ancaman itu disampaikan dengan lantang oleh Sakila (36) di hadapan anggota Pol PP Padang. Masih ada rentetan kalimat caci maki yang terlontar dari mulut PKL yang berdomisili di Puruih Baru itu. Dia, dan juga kawan-kawannya, “mete-mete” (sewot-red) dengan kebijakan Pemko Padang yang akan membongkar lapak mereka di sepanjang Taplau (tapi lauik-red) kawasan Danau Cimpago.
Punya Pelanggan Turun-temurun
Jalan inspeksi tepi banjir kanal Banda Bakali mendadak macet. Ratusan pengendara berhenti, dan memalingkan wajahnya ke badan sungai yang bau, kotor dan berlumut. Di situ puluhan warga sudah mengobok-obok air yang berubah hijau diselimuti algae (lumut).






